Bagaimana melahirkan kepemimpinan generasi milenial?

kepemimpinan milenial bloger kampus

Kepemimpinan generasi milenial menjadi kunci sukses menuju Indonesia maju di tahun 2045. Pada postingan kali ini, admin ingin membahas bagaimana melahirkan kepemimpinan generasi milenial.

Generasi Y (generasi millennial) adalah generasi yang lahir pada era 80-90-an. Banyak istilah popular tentang generasi ini; connected or digital generation atau gen why yang identik dengan karakter berani, inovatif, kreatif, dan modern. Generasi millennial merupakan generasi modern yang aktif bekerja, penelitian, dan berpikir inovatif tentang organisasi, memiliki rasa optimisme dan kemauan untuk bekerja dengan kompetitif, terbuka, dan fleksibel. Di lain sisi, generasi Baby Boomers/generasi X (generasi yang lahir pada era 65-89-an) dibesarkan di dalam suatu organisasi dengan struktur organisasi yang hierarkhis dan struktur manajemen yang datar sehingga sistem kerjasama yang timbul di dalam organisasi didasarkan pada tuntutan pekerjaan (teamwork-based job roles).

Berbeda dengan generasi Baby Boomers, generasi millennial mempunyai harapan yang sangat berbeda tentang permasalahan ekonomi, lingkungan, hingga persoalan sosial politik. Secara merata generasi millennial mempunyai pendidikan yang lebih baik dari para Baby Boomers, mereka cukup terbiasa dengan teknologi bahkan sebagian besar dari mereka sangat ahli dengan teknologi. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, generasi millennial mampu bekerja kreatif dan selalu mempunyai energi positif di berbagai bidang.

Meningkatnya jumlah millennial (Generasi Y) yang masuk ke dalam dunia kerja dengan keistimewaan yang cenderung berbeda dengan generasi – generasi sebelumnya menjadi salah satu tantangan baru bagi dunia kerja. Millennial sering disebut – sebut sebagai generasi yang menyukai kebebasan dan fleksibilitas seperti kebebasan bekerja, belajar maupun berbisnis. Generasi Millenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut millennial karena satu – satunya generasi yang pernah melewati millennium kedua sejak teori generasi ini dihembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.

Di era globalisasi ini, semakin banyak tantangan dalam setiap sisi. Baik dalam dunia kerja, kehidupan sehari – hari ataupun dunia pendidikan. Keberadaan seorang pemimpin dalam organisasi ataupun individu sangat dibutuhkan untuk membawa organisasi atau individu kepada tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai gaya kepemimpinan akan mewarnai perilaku seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Karakteristik generasi Y mendorong tren dimana anak muda sekarang lebih selektif dalam memilih pekerjaan yang sesuai, dan hal ini tidak lepas dari sikap kepemimpinan yang mereka miliki.

Ketika kita membaca berbagai literatur tentang kepemimpinan, istilah kepemimpinan milenial mungkin belum muncul dalam buku-buku teks. Gagasan revolusi mental ini jelas memerlukan penerjemahan lebih lanjut. Tentu saja tak ada definisi yang mutlak untuk pola kepemimpinan milenial yang memang menjadi bagian dari adaptasi perubahan zaman. Kepemimpinan milenial ini penulis terjemahkan sebagai kepemimpinan masa kini yang menyesuaikan dengan gaya generasi baru yang lahir di era 1980-an. Pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan pola kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Tahun kelahiran 1980-an itu penting karena generasi tersebut saat ini memasuki masa paling produktif. Di usia 30-an tahun, generasi inilah yang menggerakkan dunia kerja, dunia kreativitas, dunia inovasi, dan memengaruhi pasar dan industri global yang ada sekarang sedang menggelinding di lapangan kompetisi dunia kerja, dunia kreativitas, dunia inovasi. Karena itu pula, generasi yang lahir di era 1980-an ke atas biasa disebut generasi milenial. Dengan merujuk pada generasi itu, gaya kepemimpinan yang dibangun pun perlu beradaptasi dengan pola pikir dan gaya hidup mereka. Dan ketika kepemimpinan yang ada hendak melakukan revolusi mental pada bangsa, generasi inilah yang menjadi target penting untuk disasar.

Berdasarkan fenomena tersebut, karakter yang harus dimiliki pemimpin milenial yaitu; 1) Mampu menjadi teladan yang baik, 2) Memiliki rasa tanggung jawab, 3) Berani mengambil dan bersedia menerima resiko, 4) Mempunyai sense of belonging dari para bawahan dan sense of participation, 5) Menciptakan kerjasama yang baik di kalangan anggota merupakan karakter yang harus dimiliki oleh pemimpin di generasi milenial.

Generasi didefinisikan sebagai suatu identitas kelompok dengan tahun kelahiran, masa (era) dan peristiwa bersejarah yang sama sebagai tahap kritis perkembangannya. Empat generasi yakni Tradisionalis, Baby Boomers, Generasi X dan Generasi Y merupakan isu menarik dari tahun ke tahun dalam berbagai studi, di antaranya psikologi, manajemen, dan sumber daya manusia.

Setiap generasi membutuhkan pemimpin dan karakter yang berbeda beda. Khusus untuk menjadi pemimpin kalangan generasi milenial harus memiliki karakteristik :

Pertama, Mampu menjadi teladan yang baik. Setiap manusia dalam suatu generasi adalah pemimpin yang harus siap untuk memimpin apa dan siapa yang pimpin. Hanya saja posisi atau status turut menentukan sebesar apa tanggungjawab kita sebagai pemimpin. Jika sebagai presiden, maka sudah barang tentu ia memimpin suatu negara yang tanggungjawabnya tentu sangat besar mencakup hal ikhwal satu negara, jika sebagai gubernur, maka ia mempunyai tanggungjawab memimpin masyarakat satu provinsi, begitu juga seseorang sebagai individu maka sudah barang tentu ia bertanggungjawab memimpin dirinya sendiri.

Ada satu hal penting yang cukup menarik mengenai konsep kepemimpinan untuk masyarakat milenial yakni kepemimpinan itu merupakan suatu karakter dari seorang pemimpin yang mana salah satunya seseorang pemimpin harus menjadi teladan bagi orang lain atau bagi masyarakat yang dipimpinnya. Layaknya posisi seorang ibu dan ayah bagi anak dalam lingkungan keluarga, maka seorang pemimpin juga seolah menjadi orang tua bagi masyarakat yang dipimpinnya, masyarakat milenial tersebut pada akhirnya akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pemimpin. Maka sebagai seorang pemimpin untuk era milenial, selain harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik, mempunyai kapasitas dan kapabilitas dalam memimpin sehingga bisa menciptakan kondisi yang efektif, efisien dan produktif, juga seorang pemimpin milenial harus mampu mempunyai karakter atau atitude yang baik sehingga ia menjadi teladan bagi rakyatnya. Segala tindak tanduk pemimpin akan menjadi penilaian bagi masyarakatnya, baik itu tindakannya sebagai pemimpin suatu lembaga atau dalam hal tindakan ia sebagai masyarakat biasa termasuk dalam ranah sosialisasi dengan masyarakatnya.

Jika seorang pemimpin sudah mampu menjadi teladan bagi rakyatnya dalam berbagai hal, maka diharapkan bahwa rakyat yang dipimpinnya juga akan mengikuti sikap dari pemimpinnya sehingga rakyat akan lebih simpati terhadap pemimpin. Hal ini bisa berdampak luas, karena selain membangun rakyat yang baik, juga akan meningkatkan efektifitas pembangunan, diharapkan ketika seorang pemimpin menjadi contoh baik bagi rakyatnya, maka masyarakat akan lebih antusias dalam mengikuti intruksi dan ajakan dari pemerintah termasuk dalam melaksanakan setiap program kerja seorang pemimpin yang memang memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri.

Ketika dalam suatu negara sudah banyak terjadi hal hal tindakan pemerintah yang kurang baik, seperti korupsi, penyimpangan sosial dan lain sebagainya. Hasilnya selain masyarakat yang tidak mendapatkan contoh yang baik dari pemimpinnya, juga mucul ketidak percayaan dari rakyat kepada pemerintah yang tentunya hal ini sangat merugikan dalam proses pemerintahan di negara tersebut. Maka dari itu sebagai seorang pemimpin, sudah seharusnya kita membangun sikap yang baik agar menjadi teladan bagi siapa nanti yang kita pimpin, sehingga terbangun masyarakat yang baik dan menciptakan efektifitas dalam pembangunan karena diharapkan adanya antusias yang besar dari rakyat milenial terhadap pemimpinya.

Kedua, Mempunyai rasa tanggung jawab. Manusia adalah makhluk sosial yang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan menjadi pemimpin bagi orang lain. Menjadi pemimpin berarti menjadi seseorang yang memiliki tanggung jawab lebih dalam hidup. Ada ungkapan mengatakan bahwa mitos kepemimpinan yang paling berbahaya adalah “bahwa pemimpin dilahirkan, bahwa ada faktor genetik yang untuk kepemimpinan”. Itu hanya omong kosong yang pada kenyataannya kebenarannya adalah sebaliknya. Pemimpin sendiri bukan dari bawaan lahir melainkan diciptakan dan disiapkan.

Pemimpin adalah seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin dengan melaksanakan tugas berdasarkan prinsip dasar manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian sehingga mampu menciptakan keadaan orang lain yang dipimpinnya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan. Selain itu pemimpin harus mempunyai kreatifitas yang tinggi.

Pemimpin yang ideal salah satunya pemimpin yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab berarti berani untuk menanggung efek dari segala keputusan yang timbul akibat tindakan yang telah dilaksanakan. Selain cerdas dan berinisatif, seorang pemimpin yang ideal tentunya perlu memiliki sifat bertanggung jawab. Pengambilan keputusan terhadap cara kerja dan pelaksanaan misi suatu kelompok tentunya diputuskan dengan tidak tergesa-gesa.

Dalam pengambilan keputusan, pemimpin harus menjadi seorang pendengar yang baik. Bahwa pemimpin pendengar yang baik merupakan seorang pendengar yang baik terlebih ketika orang-orang disekitarmu datang untuk meminta saran dan berbagi. Mereka secara sadar datang kepadamu untuk berbicara karena mereka tahu bahwa, akan mendengarkan dan apa yang mereka katakan akan dihargai. Sebagai pemimpin, tidak langsung memberikan solusi melainkan fokus untuk membimbing dan menasehati agar orang itu sendirilah yang menemukan solusi tersebut dan menjalaninya. Dalam menemukan solusi tersebut harus keluar dari out of the box, dan selalu memiliki pandangan jauh kedepan serta memiliki pengetahuan yang luas, sehingga bisa diandalkan untuk memberikan solusi.

Maka, pemimpin yang bertanggung jawab adalah pemimpin yang tetap teguh dan mampu berpikir taktis untuk menerima segala resiko yang timbul dari keputusan yang diambil. Pemimpin selalu berjiwa besar, menerima kritik dan selalu mengambil tanggung jawab atas semua keputusan yang ia ambil. Serta tidak pernah mencari kambing hitam atau menyalahkan orang di sekitarnya.

Ketiga, Berani mengambil resiko. Dalam sebuah diri seseorang terdapat sebuah mental yang ada pada diri masing-masing, dan taukah anda kalau mental adalah sebuah kunci keberhasilan dari individu tersebut, jika pada individu mempunyai mental yang kuat maka presentasi dari tingkat keberhasilannya akan besar, hal ini dikarenakan bahwa mental sangat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan sehingga jika seorang individu tersebut mempunyai mental yang cukup besar maka individu tersebut dapt memutuskan suatu keputusan dengan cepat sehingga dia akan lebih cepat untuk mengetahui apakah keputusannya tersebut adalah hal yang baik atau buruk. disinilah kita mendapatkan pembelajaran dari sebuah keputusan kita sendiri, sehingga kita akan cepat tumbuh menjadi seorang yang dewasa dan mempunyai pengalaman untuk menjadi seorang yang lebih baik, karena jika seorang individu tersebut dalam mengambil keputusan yang lambat maka dia akan lambat tumbuh dewasa dan akan lambat menjadi seorang yang baik karena ketangkasan dalam mengambil keputusan memerlukan kecepatan berfikir dan berani mengambil resiko debagi konsekuensinya.

Konsekuensi apapun yang akan kita dapatkan dari sebuah keputusan, haruslah kita sikapi dengan positif karena hal itu dapat menjadi pemacu kehidupan kita dalam membangun integritas diri dan menyikapi suatu masalah, hal inilah yang dialami oleh para pemimpin bangsa kita yaitu keterlambatan dalam menyikapi masalah sehingga menyebabkan lambatnya negara kita dalam berkembang dikarenakan lambatnya sang pemimpin dalam menyikapi sebuah masalah dan ketidak beraniannya pemimpin kita dalam mengambil resiko karena hal yang terdapat dalam otak para petinggi negara kita hanyalah uang sehingga mengorbankan kedewasaan negara kita sendiri dan berakibatkan pada perekonomian negara.

Keempat, Merasa ikut memiliki, merasa ikut serta dan merasa ikut bertanggung jawab. Dalam sebuah perkumpulan tidak akan terlepas dari sosok seorang leaders, mulai dari perkumpulan sederhana sampai oranganisasi besar peran pemimpin sangat vital. Maju mundurnya sebah organisasi sangat tergantung dari seorang leaders. Pemimpin adalah sosok yang sangat berperan dalam menahkodai sebuah organisasi. Tetapi sehebat apapun kepemimpinan seseorang tanpa didukung dengan managemen tim yang bagus itupun akan percuma, jadi kesolidan sebuah organisasi juga sangat penting agar oranganisasi itu bisa terus melaju sesuai dengan cita-citanya. pemimpin mempunyai tanggung jawab memastikan setiap anggotanya bekerja dengan baik, pemimpin juga harus memastikan program-program kerja berjalan. selain itu seorang pemimpin juga harus mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, pemimpin tidak bisa bertindak semena-mena menyuruh ini itu, tanpa melihat kondisi lapangan atau anggota. Pemimpin harus tegas tetapi juga harus bijak dalam mengambil setiap keputusan. pemimpin yang tidak kreatif adalah pemimpin yang gagal, karena seharusnya pemimpin harus memunculkan inovasi-inovasi dalam setiap gagasannya, memunculkan hal-hal baru dengan gagasan-gagasan yang sepektakuler, beda dengan yang lainnya. pemimpin bukan mereka yang hanya menerima mandat lalu menjalankan tugas kalau seperti ini bukan pemimpin tetapi acting leader.

Pemimpin harus punya program dan harus berani mengambil setiap keputusan. Pemimpin juga harus bisa menyemai kekompakan, memelihara loyalitas setiap anggota, memastikan anggota loyal padanya. bukan berarti ia seorang yang otoriter, tetapi memang setiap anggota harus berada dalam jalur visi misi seorang pemimpin kalau tidak, maka akan menjadi benalu bagi kepemimpinannya. Bukan pemimpin bila ia lari dari tanggung jawab, maka pemimpin yang baik ia harus bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang menjadi programnya. Pemimpin yang baik, bukanlah ia yang selalu merasa paling benar, tetapi pemimpin yang baik adalah orang yang selalu menerima masukan dari anggota-anggota mempertimbangannya dan mengambil keputusan dengan musyawarah. Selain itu seorang pemimpin ialah motivator, pemimpin harus mampu memberi motivasi kepada anggota-anggotanya, agar mereka menjalankan tugas-tugasnya dengan penuh semangat dan penuh dedikasi dan tanggung jawab. Dan pemimpin yang baik itu ia yang tidak segan memberi pujian penghargaan kepada anggotanya.

Kelima, Menciptakan kerjasama yang baik di kalangan anggota. Dalam suatu organisasi atau perusahaan, untuk mencapai tujuan bersama diperlukan suatu kerjasama dari anggota-anggota yang ada di dalamnya. Pentingnya menjalin kerjasama dalam organisasi akan berdampak positif terhadap kinerja yang efektif. Salah satu hal yang mengawali lahirnya kerjasama adalah jalinan komunikasi yang baik. Komunikasi merupakan hal terpenting dalam keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan. Jika anggota dalam perusahaan tersebut menjalin komunikasi dengan baik maka perusahaan tersebut mempunyai peluang besar untuk meraih keberhasilan.

Terbentuknya komunikasi yang mengawali kerjasama tim dalam perusahaan, tidak semudah dilaksanakan. Kesuksesan perusahaan yang didasari kemampuan para anggota untuk bekerja sama ditentukan oleh komunikasi yang baik. Oleh karena itu, setiap perusahaan mempunyai kewajiban untuk mengembangkan komunikasi dari berbagai pihak, baik itu antara pemimpin, anggota, dan masyarakat di sekitar lingkungan kerja agar dapat membantu mewujudkan kerjasama timyang baik.

Menjadi seorang pemimpin yang baik pada generasi masyarakat milenial saat ini dan kedepan menjadi satu tantangan yang kritis. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan karakter sejak lahir. Pada zaman ketika pemimpin dilahirkan dari para raja-raja bisa dikatakan demikian karena yang mendapatkan ilmu-ilmu dan pengalaman kepemimpinan hanya ada di lingkungan kerajaan.

Namun seiring perkembangan zaman, banyak pemimpin muncul akibat tuntutan dan kondisi lingkungan pada saat itu. Pada zaman penjajahan karakter para pemimpin terbentuk dalam perjuangan melawan penjajah. Mereka pejuang yang terbentuk oleh intelektual dan memiliki idealisme yang bisa menghasilkan rumusan ideologi bangsa yang menjadi dasar-dasar dan pedoman perjalanan dan kehidupan bangsa kita.

Namun mencari pemimpin yang tepat untuk masa sekarang dan akan datang menjadi tantangan yang harus dipenuhi untuk bangsa ini. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Negara-negara maju memiliki pemimpin yang berhasil memanfaatkan perkembangan teknologi yang mengubah pola kehidupan manusia. Selain itu pemimpin juga harus memiliki empati yang tinggi dan komitmen menolong sesama tanpa membedakan suku, agama maupun ras.

Pemimpin juga harus memliki sifat berani mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan rakyat atau golongannya. Yang terpenting dari semua karakter tersebut seorang pemimpin harus memiliki sifat jujur, karena ketidakjujuran bisa merusak sendi-sendi dalam berbangsa dan bernegara. Ketidakjujuran adalah sebuah penyakit yang sangat sulit diobati. Sekali melakukan kebohongan akan menuntut ketidakjujuran-ketidakjujuran berikutnya.

Beberapa karakter generasi milenial ini adalah, pertama, kemampuan mereka mengakses teknologi informasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Media sosial menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Internet pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi mereka. Apa pun kebutuhan informasi yang mereka perlukan, sebagian besar mereka peroleh dari internet dan media sosial. Kedua, generasi milenial lebih memiliki keberanian dalam berinovasi. Mereka lebih termotivasi menciptakan startup atau merintis usaha dan bisnis baru. Karena itu merupakan bagian dari tantangan yang membuat adrenalin mereka mengalir. Ketiga, generasi milenial lebih menyukai independensi dan kemandirian. Independensi ini merupakan kebutuhan yang lahir dari gaya hidup yang ingin lebih bebas dan mandiri dalam melakukan sesuatu. Keempat, generasi milenial lebih menyukai sesuatu yang instan. Mungkin ciri ini bisa dipersepsikan secara positif atau negatif. Positifnya, generasi ini menyukai sesuatu yang praktis dan simpel. Negatifnya, generasi ini mungkin memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap tekanan dan stres karena terbiasa melakukan sesuatu dengan cepat dan instan sehingga kurang sabar jika hasil yang diperoleh tidak muncul seketika.

Dengan memahami karakter generasi milenial ini, kepemimpinan yang muncul pun perlu menjadi bagian dari figur yang cocok dengan mereka. Penerjemahan tentang kepemimpinan milenial ini pun fleksibel dan belum ada definisi mutlak dari para pakar kepemimpinan. Meski demikian, beberapa yang dapat ditekankan dalam pola kepemimpinan ini antara lain:

Pertama,kepemimpinan milenial perlu memahami dan memakai pola komunikasi generasi milenial yang dipimpinnya. Misalnya pemimpin milenial tidak segan menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, MeTube, dan saluran komunikasi terbaru yang memang menjadi arus utama dalam kehidupan generasi baru itu.

Kedua, kepemimpinan milenial perlu mendorong inovasi, kreativitas, dan jiwa entrepreneurship generasi baru itu. Semua saluran inovasi, kreativitas dan entrepreneurship harus dirancang dengan baik dan kongkrit. Jangan hanya berisi wacana saja, tapi bangunlah proses yang benar-benar dapat dinikmati oleh generasi milenial ini mengembangkan dirinya. Misalnya pemimpin milenial perlu membangun pusat-pusat kreativitas di setiap kota. Bangunlah sebanyak mungkin workshop dengan peralatan dan teknologi terbaru. Biarkan gagasan dan ide generasi milenial itu tersalurkan. Di tiap workshop itu bisa diberi misalnya printer tiga dimensi (3D), komputer grafis tercanggih, jaringan internet gratis berkecepatan tinggi, peralatan kerajinan lengkap, dan sebagainya. Semua itu harus bisa diakses generasi milenial secara gratis atau jika memang harus membayar pun harus terjangkau.

Ketiga, kepemimpinan milenial perlu mendukung kemandirian dan jiwa entrepreneurship generasi milenial. Membangun bangsa harus memiliki fondasi utama yakni kemandirian dan entrepreneurship. Harus diakui, kesalahan pola pendidikan pada generasi lama ialah kemandirian dan jiwa entrepreneurship mereka tidak dibangun secara kokoh sejak dini. Pendidikan kemandirian dan entrepreneurship ini penting bagi masa depan bangsa dan negara untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang selama ini mendominasi berbagai bidang dan industri. Kepemimpinan milenial harus menyadari poin penting ini dalam membangun mental generasi baru.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.