Tantangan pemimpin abad ke-21

pemimpin abad 21

Kompetisi global dalam bidang politik, ekonomi, budaya, sosial dan bidang lainnya saat ini menuntut setiap organisasi melakukan berbagai stategi perubahan yang bersifat adaptif dan proaktif sebagai upaya mempertahankan keberadaannya. Lingkungan strategik organisasi, baik yang berorientasi profit maupun non profit, senantiasa mengalami perubahan yang dinamis dan terus tumbuh berkembang. Peluang dan ancaman yang datang dari lingkungan eksternal (external environment), akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan internal (internal environment). Perubahan-perubahan tersebut menuntut organisasi harus cepat tanggap sehingga tidak tergilas oleh tuntutan perubahan itu sendiri. Oleh karenanya, setiap organisasi apapun jenisnya harus mempersiapkan pemimpin yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21.

Dalam perspektif  teori perubahan, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Segala sesuatu di dunia ini pasti dan selalu berubah. Berubah untuk kondisi yang lebih baik ataupun berubah menjadi tidak baik. Yang tidak berubah tentunya perubahan itu sendiri. Perubahan organisasi selalu terjadi, disadari atau tidak. Sejalan dengan sifat dinamis organisasi akibat tekanan lingkungan internal dan eksternal. Organisasi hanya dapat bertahan jika dapat melakukan perubahan. Setiap perubahan lingkungan yang terjadi harus dicermati karena keefektifan suatu organisasi tergantung pada sejauhmana organisasi dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Perubahan global yang menjadi isu dalam pembicaraan masyarakat umum dan komunitas akademis adalah disrupsi diberbagai aspek kehidupan dampak dari revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyakat. Revolusi industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, dimana terdapat perubahan cara hidup kerja manusia secara fundamental. Kemajuan dalam daya komputasi, kecerdasan buatan, robotik, dan ilmu material dapat mempercepat pergeseran menuju produk yang lebih ramah lingkungan dari semua jenis. Teknik fabrikasi digital, termasuk pencetakan 3D, dapat membawa manufaktur lebih dekat ke pelanggan dan membuat perawatan suku cadang lebih mudah dan lebih murah.

Kemajuan teknologi digital telah merubah tatatan bisnis baik sisi permintaan maupun penawaran. Dari sisi konsumen, kemajuan teknologi digital menawarkan kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan beberapa aktivitas sehari-hari seperti berkomunikasi, membeli barang, memesan tiket, hingga bertransaksi hanya dengan menggunakan gawai. Akibat perubahan pola perilaku konsumen, mendorong produsen untuk mentransformasi proses produksi hingga distribusi menjadi lebih digital. Kondisi ini melahirkan platform baru dalam dunia bisnis, semisal sharing economy, on demand economy, blockchain, digital market place dan e-commerce.

Skala dan luasnya inovasi teknologi merevolusi cara berbisnis. Organisasi bisnis saat ini menjadikan data sebagai mata uang baru. Perubahan tata kelola bisnis melahirkan wirausaha-wirausaha, bisa disebut juga pemimpin sukses berbasis teknologi digital di era disrupsi ini. Sosok-sosok seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Jack Ma adalah contoh wirausaha atau pemimpinan sukses di bidangnya, yang saat masih belia telah mulai menciptakan Apple, Microsoft, Facebook dan Alibaba. Mereka telah terbukti mampu memanfaatkan perubahan lingkungan, menjadi keunggulan kompetitif organisasi bisnis yang dijalankan.

Salah satu faktor penentu kesuksesan organisasi baik sektor publik maupun swasta adalah kepemimpinan. Layaknya sebuah kapal, kemana kapal tersebut akan berlabuh, nahkoda lah yang menentukan. Penggunaan pendekatan atau perspektif yang beragam atas kepemimpinan, selain melahirkan definisi kepemimpinan yang beragam juga melahirkan teori kepemimpinan yang beragam pula. Kepemimpinan telah menjadi topik perhatian menarik para sejarawan dan filsuf sejak zaman dahulu. Bahkan sejarah tentang kepemimpin telah ada sejak Adam – manusia pertama dimuka bumi ini diciptakan. Namun demikian studi ilmiah tentang kepemimpinan itu sendiri baru dimulai awal abad ke 20. Sejak saat itu, para ilmuwan telah merumuskan ratusan definisi kepemimpinan.

Organisasi, perusahaan, pemerintah, dan bahkan negara-negara di era revolusi industri 4.0 ini akan membutuhkan para pemimpin yang tidak hanya memiliki impian besar tetapi juga berani menciptakan karya spektakuler dalam menghadapi era gangguan saat ini. Dalam memimpin, seorang pemimpin harus mendalam dalam melihat kesenjangan terkecil dalam semua aspek kehidupan. Mencari tahu berbagai fenomena atau masalah yang berkembang termasuk segala fenomena yang mungkin terjadi, di mana ini menjadi pekerjaan rumah bagi seorang pemimpin untuk membuat rencana strategis untuk masa depan.

Oleh sebab itu yang dituntut dalam masyarakat abad ke-21 ialah kepemimpinan yang unggul dan visioner. 4 agenda utama pengembangan kepemimpinan pada abad ke-21 agar tetap menjadi “champion”, (1) menjadi rekan stratejik, (2) menjadi seorang pakar, (3) menjadi seorang pekerja ulung, dan (4) menjadi seorang agent of change. Masyarakat pada abad ke-21 suatu masyarakat mega kompetisi. Pada abad ke-21, tidak ada tempat tanpa kompetisi. Kompetisi telah dan akan merupakan prinsip hidup yang baru, karena dunia terbuka dan bersaing untuk melaksanakan sesuatu yang lebih baik. Di sisi lain masyarakat kompetitif dapat melahirkan manusia-manusia yang frustasi apabila tidak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Masyarakat kompetitif dengan demikian menuntut perubahan dan pengembangan secara terus menerus.

Para pemimpin harus dapat mempersiapkan segala sesuatu karena itu mereka dapat terus beradaptasi dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, perusahaan, pemerintah, dan bahkan suatu negara ditentukan oleh faktor-faktor kepemimpinan, dan dalam kepemimpinan, ada pemimpin dan pengikut. Kepemimpinan tidak hanya menjadi pemimpin yang dapat memimpin sumber daya mereka tetapi juga pemimpin yang dapat memimpin dalam semua perubahan dan perbedaan. Dalam era revolusi industri 4.0, seorang pemimpin harus dapat bersatu dan memberikan arah yang jelas, memiliki visi yang bukan hanya visi untuk organisasi atau perusahaan tetapi lebih besar, yang memiliki pengaruh dan bermanfaat.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa, pada abad ke-21 diperlukan paradigma baru dibidang kepemimpinan, manajemen, dan pembangunan dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan baru. Penyusunan paradigma baru menuntut proses terobosan pemikiran (break through thinking process), apalagi jika yang kita inginkan adalah output yang berupa manusia, barang dan jasa yang berdaya saing. Dalam kaitan hal tersebut, berikut akan disajikan pokok pokok pemikiran abad ke-21, dengan tetap memperhatikan berbagai perkembangan paradigma kepemimpinan sebelumnya yang dipandang valid dalam menghadapi pokok permasalahan dan tantangan abad ini.

Manajemen pada abad ke-21 akan tergantung pada 3 faktor yang menopangnya, yakni kepemimpinan, proses, dan organisasi. Asset yang paling berharga bagi pemimpin abad ke-21 adalah kemampuan untuk membangun impian seperti dilakukan para enterpreneurs.

Faktor pertama, pemimpin abad ke-21 adalah pemimpin yang memiliki kompetensi berupa kemampuan mengembangkan peoplistic communication, emotion and belief, multi skill, dan juga memiliki next mentality. Pemimpin yang berhasil dalam mengejar dan mengerjakan impian-impiannya menggunakan komunikasi, dan memberikan inspirasi kepada setiap orang dalam organisasi untuk juga meyakini impiannya. Sebab itu kompetensi sang pemimpin ditandai dengan sikap peoplistic bukan individualistic. Perlu diingat bahwa “you can have the best communication system, but if you are individualistic as a leader the organization suffers”. Seorang komunikator yang peoplistic mengembangkan iklim yang bersahabat dimana setiap orang dapat berkomunikasi secara cepat. Dalam organisasi yang besar komunikasi dapat mengalami kegagalan karena jenjang birokrasi dan orang hanya menerima sekitar 10% dari informasi yang dibutuhkan. “the 21st century leader will be a firm believe in such peoplistic communication, which is fast and all in involving”. “You should touch the heart, touch the mind, touch the emotion”. Komitmen emosional sangat berharga bagi manajemen. Untuk mendapatkan komitmen terhadap suatu strategi baru, dapat ditempuh dengan melibatkan orang-orang dalam penyusunan strategi tersebut, dan dengan mengurangi jangka waktu antara konseptualisasi strategi dan pelaksanaannya. Sedangkan mengenai believe, dikemukakan bahwa “that should be the 21st century leader’s watchword”; dan ada perbedaan mendasar antara menerima (accepting) dan mempercayai (beliving). Berkaitan dengan kompetensi multi skill, “21st century leaders will become more multi-skill than their 20th”…”one of the important characteristics of multi-skill leader is the ability to encourage diversity”.  Sebab, tantangan organisasi sesungguhnya pada abad ke-21 bukanlah jarak geografikal melainkan perbedaan kultural. Mengenai next mentality, yang dipandang sebagai kunci keberhasilan organisasi abad ke-21, meliputi hard working, never satisfied, idea-centric, curious, and persistent.

Faktor kedua, Proses abad ke-21 fokus pada kegiatan inti (core practises), meliputi 4 area kritis berupa grass root education, fire prevention, direct interaction, dan effective globalization. Grass root education dimaksudkan pendidikan dan pelatihan yang melibatkan seluruh staff tanpa deskriminasi, fire prevention dimaksudkan sebagai wawasan dan upaya untuk meningkatkan durasi kemanfaatan dalam produksi dan distribusi produk-produk tertentu. Direct interaction, organisasi abad ke-21 menekankan lebih pada entusisme pelanggan dismping kepuasannya; “Customer enthusiasm means excitement and loyalty on the part of customer, fuelled by the service and product available to them exceeding their expactations”. Effective globalization; globalisasi selalu mengandung resiko yang berbeda antara negara yang satu dengan yang lainnya. Permasalahannya adalah berapa cepat respons dalam menghadapi perubahan dramatik yang terjadi. Dalam hubungan itu, manajemen harus: study local culture, local market, and local competition; prepare a business model that effectively serves the market needs; select the right strategic local partner or group eith the best local market knowledge; encourage employees by maintaining local values; introduce new and innovative product, with loval flavour.

Faktor ketiga, organisasi abad ke-21 yang komit terhadap kualitas sumber manusia. the driving force of behind a 21st century organization will be it people….people manage people, inside and outside an organization. Effective management of people is a challange managers will increasingly face in the 21st century.  

Sosok ideal seorang pemimpin di abad 21 dan masa datang tentu tidak mungkin sama dengan pemimpin sebelum ini, karena tantangan dan situasi yang dihadapinya sangat berbeda. Kreteria pemimpin masa datang harus lebih dari pemimpin yang ada sekarang. Pemimpin di dunia yang sudah dekat,singkat dan cepat ini haruslah orang yang tidak cukup dengan orang-orang yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, orang yang tersandera dengan pola hidup dan pola pikir kovensional, mereka yang tidak cukup kuat membebaskan diri dari kungkungan tradisi dan ritual kaku dan membelenggu.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published.